OPINI

Sains Persfektif Al Qur’an

ilustrasi cerdekiawan berdiskusi tentang sains dalam persfektis al qur'an

KABARSULUH.COM – Ilmu atau pengetahuan dalam al qur’an tidak dibatasi pada ilmu agama saja namun juga ilmu-ilmu rasional. Hal ini karena para sarjana muslim dalam melakukan kerja ilmiah mereka tujuannya adalah untuk mengetahui tanda-tanda kebesaran Tuhan di alam semesta. Sumber gagasan ini diambil dari prinsip tauhid al qur’an bahwa segala sesuatu bersumber dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Prinsip ketunggalan dalam kejamakan ini mengimplikasikan ada keserasian alam semesta dan kebertujuan perjalanan alam semesta. Menurut Mehdi Golshani seorang ahli fisika, dari prinsip tauhid itu, seni -yang terealisasi dalam tradisi dan budaya- berangkat dari keragaman yang menuju kesatuan sedangkan sains memperlihatkan kesatuan seluruh unit-unit dalam alam semesta.

Beberapa ayat dalam al qur’an menekankan akan penjelajahan, pengamatan, penyelidikan dan perenungan tentang diri, alam semesta dan sejarah. Sejumlah ayat dalam al qur’an menyinggung hal-hal yang terkait dengan penggunaan akal seperti; ‘apakah kamu tidak memikirkan?, ayat kami hanya untuk mereka yang berpikir/menggunakan akalnya dan sejenisnya. “Maka, apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengannya mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengannya mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang ada didalam dada” Oleh karenanya penggunaan akal merupakan syarat bagi seorang untuk memperoleh ilmu dimana “Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu” (QS. Al Mujadilah: 11) dan menyatakan “apakah sama antara orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui?” (QS. az Zumar: 9). Menurut Heriyanto dalam bukunya menggali nalar saintifik islam 2011, mengutip C.A. Qadir (1998) ada sekitar 750 ayat (1/8 isi al Qur’an) yang mendorong umat beriman untuk menelaah, merenungkan dan menyelidiki alam dengan penggunaan akal. Sejumlah hadist dari Nabi Muhammad saw menekankan pencarian akan ilmu dari buaian hingga liang lahat disamping tuntutlah ilmu meski ke negeri Cina karena mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap orang beriman. Disamping itu Sayidina Ali bin Abu Thalib diriwayatkan “ilmu adalah harta berharga kaum mukmin yang hilang, ambilah meski itu dari orang musyrik sekalipun.

Baca juga  Tinggal Selangkah, Fakultas Farmasi UHO Punya Profesi Apoteker

Dan Allah adalah sumber ilmu “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakan pada para malaikat, lalu berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda-benda itu jika kamu memang orangorang yang benar” (QS. Al Baqarah: 31). Ditempat lain Allah mewahyukan kepada Ibunda Musa as untuk disusui dan apabila khawatir jatuhkan ke sungai nil (QS. Al Qashas: 7), selain itu lebah juga mendapat wahyu dari Allah selain Maryam ibunda Nabi Isa dan tentu saja para Nabi (QS. An Nisa: 163). Di tempat lain ilmu yang diturunkan itu disebut sebagai hikmah (QS. Al Isra: 39). Tentu saja kita tidak melupakan ayat qur’an yang pertama kali diturunkan bahwa sumber ilmu dan guru sejati adalah Tuhan sebagaiman dalam QS. Al-Alaq: 1-5 “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulan yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Selain itu dalam islam pengetahuan tidak sebatas pengetahuan indrawi yang bersifat materialistik saja namun lebih daripada itu hal-hal yang berada diluar wilayah fisika karena “Kepunyaan Allahlah apa yang gaib dilangit dan dibumi dan kepada-Nyalah kembali segala urusan, maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lali dari apa yang kamu kerjakan”(QS. Hud: 123).

Baca juga  Fakultas Farmasi UHO Kendari Kembangkan Obat Khas Muna Dalam Bentuk Teh Seduh

Dalam pencarian kebenaran itu, metodologi Islam rupanya tidak hanya mengandalkan penggunaan akal sehat/rasio selain alat-alat indra, namun juga intuisi. Sumber epistemologi atau pengetahuan atau teori pengetahuan (nazhariah al-ma’rifah) atau cara pandang keilmuan dalam islam sangat luas selain rasio dengan penggunaan akal, hati atau jiwa juga alam semesta misalnya seperti dalam QS. Yunus: 101, serta sejarah seperti dalam QS. al-An’am: 11, QS. an-Naml: 69, QS. al-Ankabut: 20 dan QS. ar-Rum: 42.

Tentang intuisi al qur’an mengatakan “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (QS. An-Nahl: 78). Pendengaran dan penglihatan adalah dua alat pertama untuk mengetahui sesuatu. Muthahari menyebut bahwa menurut Ibnu Sina ada banyak kata-kata yang diciptakan dari dua alat indra ini. Kemudian penggunaan rasio. Dan hati –bukan organ– masih menurut Muthahri dalam bukunya mengenal esitemologi adalah kekuatan yang mampu untuk menyusun (takrib), memilah (tajziah), menggeneralisasi (ta’mim) dan melepas (tajrid). Bersyukur pada ayat tersebut dimaksudkan bahwa semua berasal dari Allah sehingga kekuatan itu akan digunakan untuk hal-hal yang Allah ridhai. Menurut Quraish Shihab dalam tafsirnya al-Misbah, bersyukur berarti menggunakan fasilitas (yang diberikan Allah) sesuai dengan fungsi dan peruntukkannya. Lalu kenapa hati (intuisi) menjadi alat untuk mengetahui kebenaran?. Al Qur’an menyebut bahwa “Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaan, beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” setelah sebelumnya menyebut penciptaan alam yaitu matahari, bulan, malam, langit, bumi,serta jiwa(QS. As-Syams: 1-10). Syarat mendapat petunjuk adalah dengan membersihkan hati (takziyatun nafs) agar bertakwa. Al Qur’an menegaskan bahwa “Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan” (QS. An-Anfal: 29). Di ayat lain disebutkan “orang yang mendapat petunjuk akan ditambahkan petunjuk itu”.

Baca juga  APTFI : Apoteker Harus Mampu Memberi Kontribusi Agar Penggunaan Obat Menjadi Rasional

Alhasil yang dimaksud sains islam menurut Mehdi Golshani dalam bukunya melacak jejak tuhan dalam sains 2004, bukanlah dalam penelitian itu dengan harus merujuk pada al qur’an dan sunnah atau penekanannya pada mukjizat ilmiah al qur’an dengan membuang temuan ilmiah dan teknologi abad-abad terakhir, tapi sains islami berarti meletakan seluruh teori atau penafsiran atas sains itu dalam kerangka pemikiran metafisika islam yang bersumber dari prinsip tauhid. Meskipun teori sains dipengaruhi oleh pilihan filosofis dan praanggapan metafisis para saintis, obyektifits sains adalah sama antara orang atheis dan orang beragama. Perbedaan keduanya ada pada dalam rangka apa teori atau penemuan sains itu dilakukan dan bagaiman dia akan digunakan. Hal yang terkait dengan niat, motivasi dan tujuan serta kerangka berpikir seorang yang percaya kepada Tuhan dengan yang tidak.

Kendari, 12 Mei 2019
Minggu, 7 Ramadhan 1440 H

Penulis :

Sunandar Ihsan.S.Farm.,M.Sc.,Apt

Dosen Fakultas Farmasi UHO Kendari

Komentar dengan Facebook

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Popular

Kantor Kabar Suluh

Gedung Creasi Center, Lt. 3
Jl. Ahmad Yani, No.80, Wua-wua, Kendari, Sulawesi Tenggara.
Phone: 081328451969

Info Redaksi

Untuk hak jawab pemberitaan, silahkan hubungi kami melalui email ke redaksi@kabarsuluh.com

Info Periklanan

Untuk kerjasama periklanan, silahkan hubungi kami melalui email ke iklan@kabarsuluh.com

Copyright © 2017 KABARSULUH.COM

To Top