OPINI

Matematika di Tangan Para Sarjana Muslim

muhammad ibn musa al-khawarizmi, MAtematikawan Muslim Penemu Al Jabar

KABARSULUH.COM – Matematika adalah bagian integral dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada satupun sisi kehidupan manusia tanpa penggunaan simbol dan model matematik dalam penyelesaian urusan kehidupannya. Matematika akhirnya menjadi ilmu utama di kalangan para sarjana di berbagai perdaban. Di tangan para sarjana muslim, matematika digunakan untuk melatih pikiran untuk memahami hal-hal yang abstrak atau gaib karena simbol notasi matematika adalah hasil abstraksi dari dunia metafisika dalam bentuk bilangan. Al Kindi misalnya menjadikan matematika sebagai tangga dari dunia fisik menuju dunia metafisika. Matematika menurut Heriyanto dalam bukunya menggali nalar saintifik Islam didasarkan oleh tiga hal yaitu; sisi kepraktisan, sisi ilmiah dan filosofis-teologis yang saling berkaitan dan bersifat integral.

Dalam pandangan sarjana muslim matematika memiliki korelasi dengan realitas obyektif. Ada interrelasi antara subyek dengan obyek. Sayidina Ali bin Abu Thalib kw misalnya dalam menjawab pertanyaan matematis orang Yahudi yaitu ‘bilangan mana yang habis dibagi sepuluh?’, Imam Ali kw menghubungkan jawaban yang merupakan persoalan kelipatan persekutuan terkecil/KPK itu dengan alam semesta dan kehidupan sehari-hari; ‘’kalikan jumlah harimu dalam sebulan dengan jumlah bulanmu dalam setahun dan dengan jumlah harimu dalam seminggu”. Para sarjana muslim seperti kelompok Ikhwan al-Shafa menganggap matematika adalah bentuk bilangan dalam jiwa yang berkesesuaian dengan alam obyektif. Kesadaran matematis membentuk fenomena matematika.

Setiap bilangan memiliki karakter dan kedudukan khusus, independen namun berrelasi. Alhasil konsep ini membawa kesadaran pada para sarjana muslim bahwa pada dasarnya alam semesta adalah sistem yang terdiri dari berbagai bagian namun saling berhubungan satu sama lain dengan kedudukan khusus masing-masing yang membentuk satu kesatuan utuh yang harmonis dan seimbang. Bagi matematikawan muslim, matematika adalah pola dasar dari tatanan alam semesta.

Baca juga  Menjadi Mahasiswa “Diantara Identitas dan Ide”

Berbeda dengan dengan para sarjana Barat moderen, matematika dijadikan hanya sebagai alat pelayan bagi ilmu-ilmu lain yang berhubungan dengan dunia fisik material saja. Kant misalnya menganggap meskipun matematika berguna namun tidak memiliki pijakan eksternal-obyektif. Di dunia modern matematika tidak berkitan dengan hal-hal metafisika atau digunakan untuk menjelaskan masalah ketuhanan. Di dunia modern matematika hanyalah simbol-simbol yang tidak memiliki kesesuaian dengan realitas alam semesta.

Meski dipengaruhi oleh konsep Phytagoras tentang bilangan dan simbol serta Plato dengan Dunia Ide-nya, para sarjana muslim melangkah lebih jauh dengan menjadikan matematika sebagai cara untuk memahami Yang Esa karena belajar matematika berarti membebaskan pikiran dari jebakan hal-hal fisik material. Dari matematika kita dapat membahas berbagai hal missal bahwa kita sesungguhnya berasal dari satu wujud, namun perubahan salah satu unsurnya kita berubah menjadi wujud lain. H2O yang kehilangan satu O akan menjadi HO suatu senyawa yang berahaya dari tadinya yang sangat bermanfaat. Selain itu dengan geometri matematik kita akan mengetahui bahwa bentuk itu kumpulan materi beragam dimana bentuk-bentuk adalah khas dari materi penyusunnya.

Baca juga  Tradisi Keilmuan Para Sarjana Muslim

Para sarjana muslim belajar matematika karena hal itu membentuk kesempurnaan watak manusia yaiatu kecintaan akan kebenaran (yang pasti), adil atau porposional,sederhana sesuai dengan penggunaan symbol-simbol, koheren atau konsisten, tekun dan sabar serta disiplin. Alhasil matematika akan membentuk karakter atau ahlak yang baik karena matematika mengendalikan pikiran untuk tertaut dengan hal-hal yang bersifat fisik material.

Tokoh Matematikawan Muslim

Luasnya pengaruh matematika dalam kehidupan sehari-hari orang muslim mulai dari menentukan waktu shalat, puasa, menghitung besar zakat, harta warisan sampai pada pengembangan ilmu pengetahuan seperti astronomi, fisika-kimia,matematika juga menjelaskan hal-hal yang bersifat ketuhanan.

Namun matematika juga membentuk warisan budaya islam yang cemerlang dibidang musik, arsitektur bangunan, pola-pola kaligrafi. Al Farabi seorang filsuf, matematikawan, astronom juga komposer musik dengan karyanya ‘Kitab Musiqa al-qabir” menjadi karya teori musik terbesar di abad pertengahan.

Al Khawarizmi adalah tokoh terkenal sebagai bapak Aljabar penemu ilmu aljabar dari bukunya ‘Kitab al-Mukhthasar fi Hisab al-Jabr wa al-Muqabalah’ yang dibarat dikenal dengan Algorism. Mengutip Heriyanto (2011), Al Khawarizmi memperkenalkan sistem perhitungan sepersepuluhan, perenampuluhan yang nampak pada perhitungan menit dalam jam. Penemu nilai phi (π) 22/7 = 3,1428571 yang tidak jauh dengan nilai phi modern 3,1415926. Al Khawarizmilah yang pertama kali menerapkan nilai nol (shifr) dalam aritmetika dan aljabar yang di Eropa disebut cipher, chiffre, zero. Dengan aljabar dia menggunakan untuk menghitung tinggi segitiga dan menyelesaikan persamaan kuadrat dengan rumus ABC juga menggunakan metode ‘pelengkap kuadrat’.

Baca juga  #PIOHALO1 - BIJAK MENGGUNAKAN ANTIBIOTIK

Lalu Abu al Wafa’ penemu teori variasi gerak bulan yang menempuh jalan ketiga dalam bukunya Al Kamil, yang menurut Seyyed Hosein Nasr suatu versi sederhana dari buku Al Magest karya Ptolomeus. Salah satu kawah di Bulan di beri nama Abu Wafa. Abul Wefa dikenal di Eropa sebagai penemu ‘identitas trigonometri’ menyempurnakan teorema Menelaus ‘Rule of The Four Magnitudes’ . Mengembangkan fungsi tangen, penemu metode untuk menghitung tabel trigonometri dan orang yang pertama kali memperkenalkan sinus dan kosinus. Dikutip dari Heriyanto 2011, Abu Al Wafa menggunakan aljabar dan aritmetika untuk menyelesaikan persoalan geometri di abad ke-10 sebelum Descartes menggunakannya di Abad ke-17.

Umar Khayyam terkenal sebagai penyair dengan syair empat baris ruba’iyyat dan quatrain, Umar Khayyam juga dikenal sebagai matematikawan sekaligus astronom. Menurut K Ajram 1992, Khayyam mampu menyelesaikan persoalan kompleks matematika berupa persamaan derajat tiga dan empat melalui penggunaan elips, hiperbola dan parabola. Dibanding Euclid, Khayyam bahkan di anggap melebihi Al Khawarizmi pencipta Aljabar.

Kendari, 17 mei 2019
Jumat, 12 Ramadhan 1440 H

Penulis :

Sunandar Ihsan.S.Farm.,M.Sc.,Apt

Dosen Fak.Farmasi UHO Kendari

Komentar dengan Facebook

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


-

Popular

Kantor Kabar Suluh

Gedung Creasi Center, Lt. 3
Jl. Ahmad Yani, No.80, Wua-wua, Kendari, Sulawesi Tenggara.
Phone: 081328451969

Info Redaksi

Untuk hak jawab pemberitaan, silahkan hubungi kami melalui email ke redaksi@kabarsuluh.com

Info Periklanan

Untuk kerjasama periklanan, silahkan hubungi kami melalui email ke iklan@kabarsuluh.com

Copyright © 2017 KABARSULUH.COM

To Top