OPINI

KEDUDUKAN ILMU KIMIA DI KALANGAN SARJANA MUSLIM

KABARSULUH.COM – Ilmu kimia dan alkimia dipelajari oleh para sarjana Muslim karena selain kegunaan praktisnya untuk medis dan pembuatan obat-obatan serta pembuatan barang indsutri, kimia dan alkimia digunakan sebagai perlambang pendakian spiritual menuju Tuhan.

Mempelajari ilmu kimia bagi para sarjana muslim tidak ada bedanya dengan melakukan telah terhadap hakikat Tuhan. Di tangan para sarjana muslim ilmu kimia adalah proses transformasi dunia fisik ke hakikat spiritualnya. Reaksi kimia sesungguhnya adalah mekanisme perubahan kecenderungan jiwa yang bersifat material-mekanis kearah metafisik-spiritual. Mengubah besi menjadi emas berarti mengubah jiwa yang kotor tak bernilai menjadi murni dan bernilai tinggi. Alhasil interpretasi metafisik terhadap reaksi kimia yang didapat melalui pengamatan empiris membedakan para sarjana muslim dengan ilmuwan barat.

Jika fisika mengubah materi kebentuk lain tanpa perubahan substansial zatnya, reaksi kimia melangkah lebih jauh dengan perubahan total suatu zat kebentuk baru dengan penyusunan ulang materi pembentuknya. Air (H2O) yang tersusun oleh satu atom hidrogen (H) yang bersifat mudah terbakar dengan dua atom oksigen (O) sebagai pembakar menunjukan reaksi kimia adalah proses perubahan bentuk yang benar-benar baru, yang justru bersifat anti pembakaran.

Baca juga  Tradisi Keilmuan Para Sarjana Muslim

Jabir bin Hayyan (721-815) lahir di Khurasan Iran yang ayahnya apoteker adalah ahli kimia sekaligus seorang sufi yang berguru pada Imam Jakfar Shadiq cucu Rasulullah saw. Jakfar Shadiq juga guru dari imam mazhab Abu Hanifah dan Imam Malik yang secara tidak langsung Imam Syafii. Ada 500 risalah ilmiah tentang kimia dengan sedikit yang tersisa salah satunya Book of The Composition of Alchemy,dan Sun of Perfection. Jabir lah yang pertamakali membangun laboratorium kimia pertama didunia dan peletak dasar metode riset kimia dan menemukan banyak zat kimia seperti asam karbida, membuat asam etanol. Bahkan alat yang dipakainya masih terpakai sampai saat ini seperti spectrometer massa pengubah atom dan molekul menjadi ion. Teori asam-basa lahir dari teori Jabir tentang sulfur-air raksa.

Oleh Seyyed Hosein Nasr, Jabir memadukan penelitian empiris kimia dengan transformasi spiritual. Berbeda dengan Zakariya al-Razi orang pertama yang melakukan klasifikasi kimia dengan 3 golongan yaitu mineral, tumbuhan dan hewan yang kemudian dikenal dengan kimia organik dan non organik ini, ilmu kimia digunakan secara empiris untuk keperluan medis dan farmakologi.
Sebaliknya Abu Qasim al-Iraqi alkimia digunakan sebagai mode transformasi spiritual. Jabir dkk lah yang pertama meletakan dasar-dasar penelitian ilmiah yang diawali dengan observasi-eksperimen lalu melakukan generalisasi atas data ilmiah tersebut. Heriyanto dalam tulisannya tentang sains islam (2011) mengatakan, penafsiran metafisis atas hipotesis itulah yang membedakan sarjana muslim dengan ilmuwan barat. Sebaliknya ilmuwan kuno Persia, Yunani, Mesir India hanya mengandallkan spekulasi-deduksi belaka tanpa pembuktian empiris memadai.

Baca juga  Matematika di Tangan Para Sarjana Muslim

Penafsiran metafisis reaksi kimia sesungguhnya lebih dekat kepada penafsiran kaum sufi tentang transformasi jiwa menjadi realisasinya yang nyata dengan menjadikannya termurnikan. Imam Al Ghazali seorang sufi bahkan menulis buku Kimiya’ al Sa’adah (Kimia Kebahagiaan) yang di ikuti oleh para sarjana Barat belakangan seperti Carl Gustav Jung Psychology and Alchemy (1953). Bagi para sufi, reaksi kimia yang mengubah tembaga, besi menjadi emas adalah cinta. Jalaludin Rumi penyair sufi mengatakanCinta adalah pembentuk dasar segala kehidupan.

Jabir bin Hayyan tidak memisahkan antara dimensi fisik dan psikologis-spiritual dari sebuah materi atau zat. Zat kimia hanyalah manifestasi realitas spiritual. Bagi para ahli kimia Muslim klasik alam semesta sesungguhnya dalam proses menjadi yang senantiasa mengalami gerak yang dalam istilah Mulla Shadra al-harakat al-jauhariyyah yaitu gerak bukan hanya pada sisi aksidental namun juga secara substansial. Bagi Jabir bin Hayyan ada hubungan timbal balik antara manusia dan alam semesta dimana alam beserta isinya membentuk harmonisasi yang saling membutuhkan. Gregory Bateson antropolog dan biologi Amerika Serikat mengatakan epsitemologi Barat memisahkan pikiran dan tubuh, dan antara masyarakat dengan alam sehingga melahirkan penderitaan manusia akibat terceri berainya pikiran dan kerusakan lingkungan.

Baca juga  Sains Dan Agama

Kesatuan alam semesta dengan alam hayati dengan indah dilukiskan oleh Jalaludin Rumi yang melampaui evolusi Darwin:
“Aku mati sebagai mineral dan menjelma tumbuhan,
Aku mati sebagai tumbuhan dan terlahir binatang,
Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
Kenapa aku mesti takut? Maut tak menyebabkanku berkurang!
Namun sekali lagi aku harus mati sebagai manusia,
Dan melambung bersama malaikat; dan bahkan setelah menjelma malaikat
aku harus mati lagi; segalanya kecuali Tuhan, akan lenyap sama sekali.
Apabila telah kukorbankan jiwa malaikat ini, Aku akan menjelma sesuatu yang tak terpahami.
O,..biarlah diriku tak ada!
sebab ketiadaan menyanyikan nada-nada suci, “Kepada-Nya kita akan kembali.”

Sunandar Ihsan.S.Farm.,M.Sc.,Apt
Dosen Fak.Farmasi UHO Kendari

Kendari, 27 Mei 2019
Jumat, 22 Ramadhan 1440 H

Komentar dengan Facebook

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


-

Popular

Kantor Kabar Suluh

Gedung Creasi Center, Lt. 3
Jl. Ahmad Yani, No.80, Wua-wua, Kendari, Sulawesi Tenggara.
Phone: 081328451969

Info Redaksi

Untuk hak jawab pemberitaan, silahkan hubungi kami melalui email ke redaksi@kabarsuluh.com

Info Periklanan

Untuk kerjasama periklanan, silahkan hubungi kami melalui email ke iklan@kabarsuluh.com

Copyright © 2017 KABARSULUH.COM

To Top